Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Tahun 2024 Indonesia Menjadi Negara yang Makmur

Tahun 2024 Indonesia Menjadi Negara yang MakmurSatria Piningit atau Ratu Adil merupakan mitologi yang mengatakan akan ada satu pemimpin sekaligus penyelamat. Awalnya ramalan tentang Satria Piningit atau pemimpin tersebut datang dari ramalan Prabu Jayabaya yang merupakan raja di Kerajaan Kadiri yang memerintah pada 1135 hingga 1157 dan Ramalan Ronggo Warsito seorang pujangga tanah Jawa yang lahir pada 15 Maret 1802. 

Adapula tanda-tanda kedatangan Satria Piningit adalah adanya kerusuhan sosial hingga bencana alam. Selain itu juga ditandai dengan jatuhnya raja besar yang ditakuti oleh seluruh warganya. Kemudian Satria Piningit akan menggantikan kepimpinan raja tersebut lalu memberikan kemakmuran bagi seluruh masyarakat yang ia pimpin.

Phinandhita Sinisihan Wahyu - Ramalan kedatangan satria piningit di Pilpres 2024 untuk memberikan kemakmuran. Tokoh ketujuh merupakan sosok pemimpin yang sangat religius dan segala tindakannya berdasarkan atas wahyu Allah SWT atau sinisihan wahyu. Pemimpin ini dipercaya akan membawa Indonesia menjadi negar yang gemah ripah lohjinawi. Sebaiknya kita berdoa agar bangsa dan negara Indonesia menjadi negara yang maju. - Ramalan Ronggo Warsito

Dalam Uga Wangsit Siliwangi tertulis bahwa Ratu Adil atau budak angon (kiasan dari orang atau golongan rakyat biasa) ditemani oleh pemuda berjanggut (orang yang dekat sebagai penasehat). Budak angon sendiri digambarkan sebagai pemuda yang mengembalakan daun dan rating pohon kering yang bisa diartikan sebagai pemuda yang mengembara membawa alat tulis guna menjalankan amanatnya mencari solusi di masa sekarang dari segala personalan yang telah terjadi di masa lalu demi menciptakan kedamaian dunia dalam kebaikan di masa depan.

Bung Karno pernah berkomentar tentang ramalan ini. "Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya "Ratu Adil", apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat ? Tak lain ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengharap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu dan mengharap-harap "Kapan, kapankah Matahari terbit?". (Soekarno, 1930, Indonesia Menggugat)

Ramalan Jayabaya mungkin bisa dipahami secara ilmiah, bahwa manusia dan peradaban memang selalu bisa bangkit, hancur, dan bangkit lagi. Dan mungkin karena Jayabaya menyadari manusia bisa lupa, dia sengaja menulis ini sebagai peringatan agar manusia tidak lupa. Dan itulah satu tanda kearifan sang Prabu Jayabaya. Mungkin, ini juga dorongan pada manusia agar selalu berbesar hati, optimis. Bahwa di saat yang paling berat sekalipun, suatu hari akhirnya akan datang juga Masa Kesadaran, Masa Kebangkitan Besar, Masa Keemasan Nusantara.
Selengkapnya

Profil Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi

Profil Suku Anak Dalam di Provinsi JambiSuku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di provinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang.

Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang m lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem matrilineal.

Profil Suku Anak Dalam di Provinsi JambiSecara garis besar di Jambi mereka hidup di 3 wilayah ekologis yang berbeda, yaitu Orang Kubu yang di utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional Bukit 30), Taman Nasional Bukit 12, dan wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatra). Mereka hidup secara nomaden dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu, walaupun banyak dari mereka sekarang telah memiliki lahan karet dan pertanian lainnya.

Kehidupan mereka sangat mengenaskan seiring dengan hilangnya sumber daya hutan yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan, dan proses-proses marginalisasi yang dilakukan oleh pemerintah dan suku bangsa dominan (Orang Melayu) yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan. Mayoritas suku kubu menganut kepercayaan animisme, tetapi ada juga beberapa puluh keluarga suku kubu yang pindah ke agama Islam
Selengkapnya

Daftar Raja yang Berkuasa di Kerajaan Sunda

Daftar Raja Berkuasa di Kerajaan SundaKerajaan Sunda adalah kerajaan yang pernah ada antara tahun 932 dan 1579 Masehi di bagian Barat pulau Jawa (Provinsi Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah sekarang). Kerjaan ini bahkan pernah menguasai wilayah bagian selatan Pulau Sumatera. Kerajaan ini bercorak Hindu dan Buddha, kemudian sekitar abad ke-14 diketahui kerajaan ini telah beribukota di Pakuan Pajajaran serta memiliki dua kawasan pelabuhan utama di Kalapa dan Banten.

Tahun-tahun masa pemerintahan para raja Sunda secara lebh terperinci dapat ditemukan pada naskah Pangéran Wangsakerta (waktu berkuasa dalam tahun Masehi):

Tarusbawa (menantu Linggawarman, 669 - 723)
Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 - 732)
Tamperan Barmawijaya (732 - 739)
Rakeyan Banga (739 - 766)
Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 - 783)
Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 - 795)
Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi, 795 - 819)
Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 - 891)
Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 - 895)
Windusakti Prabu Déwageng (895 - 913)
Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 - 916)
Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 - 942)
Atmayadarma Hariwangsa (942 - 954)
Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 - 964)
Munding Ganawirya (964 - 973)
Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989)
Brajawisésa (989 - 1012)
Déwa Sanghyang (1012 - 1019)
Sanghyang Ageng (1019 - 1030)
Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 - 1042)
Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 - 1065)
Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 - 1155)
Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 - 1157)
Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 - 1175)
Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 - 1297)
Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 - 1303)
Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 - 1311)
Prabu Linggadéwata (1311-1333)
Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)
Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)
Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357)
Prabu Bunisora (1357-1371)
Prabu Niskala Wastu Kancana (1371-1475)
Prabu Susuktunggal (1475-1482)
Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)
Prabu Surawisésa (1521-1535)
Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)
Prabu Sakti (1543-1551)
Prabu Nilakéndra (1551-1567)
Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579)

Kerajaan Sunda runtuh setelah ibukota kerajaan ditaklukan oleh Maulana Yusuf pada tahun 1579. Sementara sebelumnya kedua pelabuhan utama Kerajaan Sunda itu juga telah dikuasai oleh Kerajaan Demak pada tahun 1527, Kalapa ditaklukan oleh Fatahillah dan Banten ditaklukan oleh Maulana Hasanuddin.

Selengkapnya

Profil Deskripsi Monas - Monumen Nasional

Profil Deskripsi Monas - Monumen NasionalMonas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 - 15.00 WIB. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.

Pada halaman luar mengelilingi monumen, pada tiap sudutnya terdapat relief timbul yang menggambarkan sejarah Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan sejarah Singhasari dan Majapahit. Relief ini berlanjut secara kronologis searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut. Secara kronologis menggambarkan masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan patung-patung ini dibuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam, sayang sekali beberapa patung dan arca mulai rontok dan rusak akibat hujan dan cuaca tropis.

Di bagian dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang. Ruangan besar berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51 diorama. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru. Diorama ini dimula dari sudut timur laut bergerak searah jarum jam menelusuri perjalanan sejarah Indonesia; mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, disusul masa penjajahan bangsa Eropa yang disusul perlawanan para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda. Diorama berlangsung terus hingga masa pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa Orde Baru pada masa pemerintahan Suharto.

Di bagian dalam cawan monumen terdapat Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Ruangan ini dapat dicapai melalui tangga berputar di dari pintu sisi utara dan selatan. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, dan dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Di dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional ini digunakan sebagai ruang tenang untuk mengheningkan cipta dan bermeditasi mengenang hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia. Naskah asli proklamasi kemerdekaan Indonesia disimpan dalam kotak kaca dalam pintu gerbang berlapis emas. Pintu mekanis ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton berlapis emas dihiasi ukiran bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan keabadian, serta bunga Teratai yang melambangkan kesucian.

Pintu ini terletak pada dinding sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapis marmer hitam. Pintu ini dikenal dengan nama Gerbang Kemerdekaan yang secara mekanis akan membuka seraya memperdengarkan lagu "Padamu Negeri" diikuti kemudian oleh rekaman suara Sukarno tengah membacakan naskah proklamasi pada 17 Agustus 1945. Pada sisi selatan terdapat patung Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapis emas. Pada sisi timur terdapat tulisan naskah proklamasi berhuruf perunggu, seharusnya sisi ini menampilkan bendera yang paling suci dan dimuliakan Sang Saka Merah Putih, yang aslinya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan tetapi karena kondisinya sudah semakin tua dan rapuh, bendera suci ini tidak dipamerkan. Sisi utara diding marmer hitam ini menampilkan kepulauan Nusantara berlapis emas, melambangkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.Semua itu sangat indah.
Selengkapnya

Daftar Nama Lagu Daerah Budaya Indonesia

Daftar Lagu Tarian Alat Musik Daerah Tradisional IndonesiaIndonesia adalah Negara yang kaya akan budaya. Banyak Beragam Lagu, Tarian dan Alat Musik Daerah Tradisional Indonesia yang banyak tersebar dipelosok negeri dengan berbagai ke-khas-annya masing-masing.

Inilah daftar lagu-lagu daerah atau lagu-lagu tradisional di Indonesia:

1. Ampar-ampar Pisang - Berasal dari Kalimantan Selatan (Kalsel)
2. Anak Kambing Saya - Berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
3. Angin Mamiri - Berasal dari Sulawesi Selatan (Sulsel)
4. Anju Ahu - Berasal dari Sumatera Selatan (Sumsel)
5. Apuse - Berasal dari Papua
6. Ayam Den Lapeh - Berasal dari Sumatera Barat (Sumbar)
7. Barek Solok - Berasal dari Sumatera Barat (Sumbar)
8. Batanghari - Berasal dari Jambi
9. Balelebo - Berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB)
10. Bubuy Bulan - Berasal dari Jawa Barat (Jabar)
11. Bungong Jeumpa - Nangroe Aceh Darussalam (NAD)
12. Burung Tantina - Berasal dari Maluku
13. Butet - Sumatera Utara (Sumut)
14. Cik-cik Periuk - Berasal dari Kalimantan Timur (Kaltim)
15. Cing Cangkeling - Berasal dari Jawa Barat (Jabar)
16. Dago Inang Sare - Berasal dari Sumatera Utara (Sumut)
17. Dayung Palinggam - Berasal dari Sumatera Barat (Sumbar)
18. Dek Sangke - Berasal dari Sumatera Selatan (Sumsel)
19. Desaku - Berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT)
20. Esa Mokan - Berasal dari Sulawesi Utara (Sulut)
21. Gambang Suling - Berasal dari Jawa Tengah (Jateng)
22. Gek Kepriye - Berasal dari Jawa Tengah (Jateng)
23. Goro-gorone - Berasal dari Maluku
24. Gundul Pacul - Berasal dari Jawa Tengah (Jateng)
25. Haleleu Ala De Teang - Berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB)
26. Huhatee - Berasal dari Maluku
27. Ilir-ilir - Berasal dari Jawa Tengah (Jateng)
28. Indung-indung - Berasal dari Kalìmantan Timur (Kaltim)
29. Injit-injit Semut - Berasal darì Jambi
30. Jali-jali - Berasal dar DKI Jakarta
31. Jamuran - Berasal dari Jawa Tengah (Jateng)
32. Kabile-bile - Berasal dari Sumatera Selatan (Sumsel)
33. Kalayar - Berasal dari Kalimantan Tengah (Kalteng)
34. Kambanglah Bungo - Berasal dari Sumatera Barat (Sumbar)
35. Kampung Nun Jauh di Mato - Berasal dari Sumatera Barat (Sumbar)
36. Ka Parak Tingga - Berasal dari Sumatera Barat
37. Keraban Sape - Berasal dari Jawa Timur (Jatim)
38. Keroncong Kemayoran - Berasal dari DKI Jakarta
39. Kicir-kicir - Berasal dari DKI Jakarta
40. Kole-kole - Berasal dari Maluku
41. Lalan Bolok - Berasal dari Bengkulu
42. Lembah Alas - Berasal dari Nangroe Aceh Darussalam (NAD)
43. Lipang-lipangdang - Berasal dari Lampung
44. Lisoi - Berasal dari Sumatera Utara (Sumut)
45. Macep-cepetan - Berasal dari Bali
46. Madedek Magambiri - Berasal dari Sumatera Utara (Sumut)
47. Malam Baiko - Berasal dari Sumatera Barat
48. Mande-mande - Berasal dari Maluku
49. Manuk Dadali - Jawa Barat
50. Ma Rencong - Berasal dari Sulawesi Selatan
51. Mejangeran - Berasal dari Bali
52. Meriam Tomong - Berasal dari Sumatera Utara
53. Meyong-meyong - Berasal dari Bali
54. Moree - Berasal dari Nusa Tenggara Barat
55. Na Sonang Duhita Nadua - Berasal dari Sumatera Utara
56. Ngusak Asik - Berasal darì Bali
57. Nuluya - Berasal dari Kalimantan Tengah
58. O Ina Ni Keke - Berasal dari Sulawesi Utara
59. Ole Sioh - Berasal dari Maluku
60. O Re Re - Berasal dari Nusa Tenggara Barat
61. Orlen-orlen - Berasal dari Nusa Tenggara Barat
62. O Ulate - Berasal dari Maluku
63. Pai Mura Rame - Berasal dari Nusa Tenggara Barat
64. Pakarena - Berasal dari Sulawesi Selatan
65. Palu Lempong Pupoi - Berasal dari Kalimantan Tengah
66. Panon Hideung - Berasal dari Jawa Barat
67. Paras Barantai - Berasal dari Kalimantan Selatan
68. Pela Tawa-tawa - Berasal dari Sulawesi Tenggara
69. Pileuleuyan - Berasal dari Jawa Barat
70. Pinang Muda - Berasal dari Jambi
71. Pisau Surit - Berasal dari Nangroe Aceh Darussalam
72. Pitik Tukung - Berasal dari DI Yogyakarta
73. Potong Bebek - Berasal dari Nusa Tenggara Barat
74. Putri Ayu - Berasal dari Bali
75. Rambadia - Berasal dari Sumatera Utara
76. Rang Talu - Berasal dari Sumatera Barat
77. Rasa Sayang-sayange - Berasal dari Maluku
78. Ratu Anom - Berasal dari Bali
79. Saputangga Bapucu Ampat - Berasal dari Kalimantan Selatan
80. Sarinande - Berasal dari Maluku
81. Selendang Mayang - Berasal dari Jambi
82. Sengko-sengko - Berasal dari Sumatera Utara
83. Sepakat Segenap - Berasal dari Nangroe Aceh Darussalam
84. Sinanggar Tulo - Berasal dari Sumatera Utara
85. Sing Sing So - Berasal dari Sumatera Utara
86. Sinom - Berasal dari DI Yogyakarta
87. Sipatokahan - Berasal dari Sulawesi Utara
88. Sitara Tilo - Berasal dari Sulawesi Utara
89. Soleram - Berasal dari Riau
90. Surilang - Berasal DKI Jakarta
91. Suwe Ora Jamu - Berasal dari DI yogyakarta
92. Tahunusangkara - Berasal dari Sulawesi Utara
93. Tanduk Majeng - Berasal dari Jawa Tìmur
94. Tanase - Berasal dari Maluku
95. Tari Tanggal - Berasal dari Sumatera Selatan
96. Tebe O Nana - Berasal dari Nusa Tenggara Barat
97. Tekale Dipanah - Berasal dari DI Yogyakarta
98. Tokecang - Berasal dari Jawa Barat
99. Tondok Kadindangku - Berasal dari Sulawesi Tengah
100. Tope Gugu - Berasal dari Sulawesi Tengah
101. Tumpi Wayu - Berasal dari Kalimantan Tengah
102. Tutu Koda - Berasal dari Nusa Tenggara Barat
103. Yamko Rambe Yamko - Berasal dari Papua.
Selengkapnya

Daftar Alat Musik dan Tarian Daerah Indonesia

Daftar Lagu Tarian Alat Musik Daerah Tradisional IndonesiaIndonesia adalah Negara yang kaya akan budaya. Banyak Beragam Lagu, Tarian dan Alat Musik Daerah Tradisional Indonesia yang banyak tersebar dipelosok negeri dengan berbagai ke-khas-annya masing-masing.

Nama-nama alat musik daerah yang ada di Indonesia, Berikut ini daftarnya:

1. ANGKLUNG : Alat musik dari Jawa Barat yang terbuat dari Bambu.
2. ANAK BECING : Alat musik yang berupa dua batang logam seperti pendayung, dari Sulawesi Selatan.
3. ALOSU : Alat musik yang berupa kotak anyaman daun kelapa berisi biji-biji, dari SulSel
4. ATOWO : Sejenis genderang berasal dari Papua.
5. ARUMBA : Alat musik yang dari bambu berasal dari Jawa Barat.
6. ARAMBA : Alat musik yang bentuknya seperti bende berasal dari Pulau Nias, Sumatera Utara.
7. BASA BASI : Alat musik sejenis terompet yang terbuat dari bambu yang dipasang rangkap, dari SulSel
8. BABUN : Alat musik sejenis kendang yang berasal dari Kalimantan Selatan.
9. CALUNG : Alat musik yang terbuat dari Bambu berasal dari Jawa Barat.
10. CUNGKLIK : Alat musik sejenis kulintang yang terbuat dari kayu, dari Pulau Lombok, NTB
11. DOLI-DOLI : Alat musik yang berupa empat bìlah kayu lunak berasal dari Pulau Nias, Sumatera Utara.
12. DOG-DOG : Alat musik sejenis genderang yang berasal dari Jawa Barat.
13. DRURI DANA : Alat musik bambu yang dikerat seperti garpu penala, dari Pulau Nias, Sumatera Utara.
14. FARITIA : Aramba kecil yang berasal dari Pulau Nias, Sumatera Utara.
15. FLOIT : Seruling bambu yang berasal dari Maluku.
16. FOI MERE : Sejenis seruling yang berasal dari Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
17. GAMELAN BALI : Seperangkat alat musik yang berasal dari daerah Bali.
18. GAMELAN JAWA : Seperangkat alat musik yang berasal dari Jawa Tengah.
19. GAMELAN SUNDA : Seperangkat alat musik yang berasal dari Jawa Barat.
20. GARANTUNG : Alat musik berupa bilah kayu yang digantung, dari Tapanuli, Sumatera Utara.
21. GERDEK : Seruling tempurung yang berasal dari Dayak, Kalimantan.
22. GONRANG : Alat musik sejenis kendang yang berasal dari daerah Simalungun, Sumatera Utara.
23. HAPETAN : Alat musik sejenis kecapi yang berasal dari Tapanuli, Sumatera Utara.
24. KECAPI : Gitar kecil dengan dua dawai yang terdapat di seluruh daerah di Indonesia.
25. KELOKO : Terompet kulit kerang yang berasal dari Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
26. KERE-KERE GALANG : Alat musik sejenis rebab yang berasal dari daerah Gowa, Sulawesi Selatan.
27. KESO-KESO : Senis Rebab yang berasal dari daerah Gowa, Sulawesi Selatan.
28. KINU : Sejenis seruling dari Pulau Roti.
29. KLEDI : Alat musik tiup yang berasal dari Kalimantan.
30. KOLINTANG : Alat musik bilah kayu yang disusun di atas kotak kayu, dari Minahasa, Sulut.
31. LEMBANG : Seruling panjang yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan.
32. NAFIRI : Alat musik tiup yang berasal dari Maluku.
33. POPONDI : Alat musik petik yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan.
34. REBAB : Alat musik gesek yang berasal dari Jawa Barat.
35. SAMPEK : Sejenis gitar yang berasal dari Dayak, Kalimantan.
36. SASANDO : Alat musik petik yang berasal dari Nusa Tenggara Timur.
37. SELUANG : Seruling bambu yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat.
38. SERUNAI : Alat musik tiup yang berasal dari Sumatera.
39. SITER atau CELEMPUNG : Alat musik petìk yang berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah.
40. TALINDO : Alat musik petìk yang berasal dari Sulawesi.
41. TALEMPOK PACIK : Alat musik pukul seperti gong kecil, berasal dari Sumatera Barat.
42. TIFA : Genderang kecil yang berasal dari Maluku dan Papua.
43. TOTOBUANG : Sejenis talempong, berasal dari Maluku.

Berikut ini adalah daftar tarian tradisional yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia:

- Tari Sedati : berasal dari Nangroe Aceh Darussalam
- Tari Saman Meusekat : berasal dari Nangroe Aceh Darussalam
- Tari Serampang Dua Belas : berasal dari Sumatera Utara
- Tari Tor Tor : berasal dari Sumatera Utara
- Tari Piring : berasal dari Sumatera Barat
- Tari Payung : berasal dari Sumatera Barat
- Tari Tanduk : berasal dari Riau
- Tari Joged Lambak : berasal dari Riau
- Tari Sekapur Sirih : berasal dari Jambi
- Tari Selampit Delapan : berasal dari Jambi
- Tari Tanggai : berasal dari Sumatera Selatan
- Tari Putri Bekhusek : berasal dari Sumatera Selatan
- Tari Jangget : berasal dari Lampung
- Tari Melinting : berasal dari Lampung
- Tari Andun : berasal dari Bengkulu
- Tari Bidadei Teminang : berasal dari Bengkulu
- Tari Topeng : berasal dari DKI Jakarta
- Tari Yapong : berasal dari DKI Jakarta
- Tari Jaipongan : berasal dari Jawa Barat
- Tari Topeng Kuncaran : berasal dari Jawa Barat
- Tari Merak : berasal dari Jawa Barat
- Tari Serimpi : berasal dari Jawa Tengah
- Tari Bambangan Cakil : berasal dari Jawa Tengah
- Tari Serimpi Sangupati : berasal dari DI Yogyakarta
- Tari Bedaya : berasal dari DI Yogyakarta
- Tari Remong : berasal dari Jawa Timur
- Tari Reog Ponorogo : berasal dari Jawa Timur
- Tari Legong : berasal dari Bali
- Tari Kecak : berasal dari Bali
- Tari Mpaa Lenggo : berasal dari Nusa Tenggara Barat
- Tari Batunganga : berasal dari Nusa Tenggara Barat
- Tari Perang : berasal dari Nusa Tenggara Timur
- Tari Gareng Lameng : berasal dari Nusa Tenggara Timur
- Tari Monong : berasal dari Kalimantan Barat
- Tari Zapin Tembung : berasal dari Kalimantan Barat
- Tari Balean Dadas : berasal dari Kalimantan Tengah
- Tari Tambun & Bungai : berasal dari Kalimantan Tengah
- Tari Baksa Kembang : berasal dari Kalimantan Selatan
- Tari Radap Rahayu : berasal dari Kalimantan Selatan
- Tari Perang : berasal dari Kalimantan Timur
- Tari Gong : berasal dari Kalimantan Timur
- Tari Maengkat : berasal dari Sulawesi Utara
- Tari Polo-palo : berasal dari Sulawesi Utara
- Tari Lumense : berasal dari Sulawesi Tengah
- Tari Pule Cinde : berasal dari Sulawesi Tengah
- Tari Dinggu : berasal dari Sulawesi Tenggara
- Tari Balumpa : berasal dari Sulawesi Tenggara
- Tari Bosara : berasal dari Sulawesi Selatan
- Tari Kipas : berasal dari Sulawesi Selatan
- Tari Lenso : berasal dari Maluku
- Tari Cakalele : berasal dari Maluku
- Tari Musyoh : berasal dari Papua
- Tari Selamat Datang : berasal dari Papua.

- Wikipedia -
Selengkapnya